CINTAKU BERSEMI
KARENA TEMANKU
Malam ini seperti malam-malam
yang biasanya, gelap, sunyi, sepi. Orangtua gak ada, kakak gak punya, apalagi
pacar, huft.. seorang diri dalam rumah gedong ini. Handphone punyaku pun tak
bersuara sekalipun.
Tak lama kemudian,
tiba-tiba handphone ku berbunyi.
Kring.. kring..
kring..
“Wah asyik nih, ada yang
menelpon”, mengambil handphone yang ada di atas kasurnya.
“Eh, kok nomornya
gak aku kenal sih,, siapa ya.. ah paling juga teman-teman yang iseng..” aku pun
bingung.
Ketika aku
mengangkat telponnya, ternyata yang menelponku seorang laki-laki.
“Selamat malam..”
sapaan lelaki itu.
“Selamat malam
juga, maaf ini dengan siapa ya?” Tanyaku.
“Oh iya, aku lupa
memperkenalkan namaku. Namaku Robi. Kalau ini dengan Shita bukan?” Tanyanya.
“Emm, iya. Kenapa
kamu bisa tahu nama aku? Lantas kamu tahu nomor handphone ku dari siapa?”, aku
bingung.
“Aku saudara
sepupunya Raisya dan aku dapet nomor kamu dari Raisya juga.” Jelasnya.
“Oh, Begitu ya?
Memangnya ada kepentingan apa kamu menelponku malam-malam begini?” Tanyaku
lagi.
“Aku Cuma ingin
berkenalan saja. Soalnya kata Raisya, kamu tuh selalu kesepian kalau
malam-malam begini, jadi aku coba telpon aja, kali aja aku bisa nemenin kamu,
biar kamu gak bosen. Apa kamu keberatan?”
“Oh tentu saja
tidak. Oh iya, ngomong-ngomong kenapa bisa minta nomor aku sih? Emang
sebelumnya kita pernah bertemu?
“Nggak juga. Aku
cuma lagi cari temen aja, barangkali teman Raisya bisa jadi temen aku juga.”
“Oh begitu ya?”
“Iya.”
Karna aku udah ngantuk,
aku minta udahan dulu telponannya.
“Eh, udah dulu
ya, udah malem nih, Kapan-kapan kita lanjutin lagi ngobrolnya.”
“Oh, baiklah, selamat
malam”
“Selamat malam
juga” balasku sambil menutup telpon.
“Hooaammm,, Aduh
ngantuk banget nih.” aku pun beranjak menuju tempat tidur dan langsung tidur.
***
Tik tok.. Tik
tok.. Jam bekerku berbunyi tepat pukul 04.30 pagi. Aku langsung bergegas pergi
ke kamar mandi.
Seperti biasanya,
sebelum bergegas ke bawah, aku membereskan tempat tidur. Eh, pas aku liat handphone
ku, ternyata ada pesan dari Robi.
“Ada apa ya, dia
sms aku sepagi ini.” Tanyaku dalam hati.
“Selamat pagi
Shita, cepet bangun ya, nanti kesiangan sekolahnya” Isi pesan dari Robi.
Setelah membaca
pesan itu, aku bingung, kenapa Robi seperhatian itu padaku, padahal aku baru
mengenal dia tadi malam. Apa dia orang yang udah kenal aku ya. Hmm,, Aku
bingung sekali.
Selesai
membereskan tempat tidur, aku pun langsung bergegas ke bawah dengan buru-buru.
Aku ingin cepat-cepat bertanya pada Raisya, siapa Robi itu sebenarnya.
Di meja makan
udah ada bunda dan ayah nya.
“Shita, kok
tumben sih, pagi-pagi gini udah ke bawah, buru-buru lagi, padahal masih jam 6.”
Tanya bunda heran
“Gak apa-apa kok
Bun, emang gak boleh ya Shita berangkat sekolah pagi-pagi? Huft..” Jawabku.
“Ya gak
apa-apalah Shit, semoga aja tiap hari kamu kaya gini, jadi bisa bareng sama
Ayahmu.”
“Iya Shit,
sekarang pergi bareng aja ya?” Ajak Ayah.
“Ah nggak Yah,
aku pergi sendiri aja, lagian sekarang juga udah mau pergi kok.” Jawabku.
“Loh kok pergi
sekarang? Kamu gak sarapan?” Tanya ibu.
“Aku sarapan di
sekolah aja Bun.”
“Oh, ya sudah.”
“Kalau gitu aku
pergi dulu ya Ayah Bunda.” Berpamitan pada Ayah dan Bunda.
“Hati-hati di
jalan sayang” Pesan Bunda.
***
Sesampanya di SMA
56 Partiwi, suasana sekolah masih sepi, karna belum banyak yang udah datang.
Aku langsung menuju kelas X-3, kelasnya Raisya.
“Untung saja,
Raisya sudah datang” Ucapku dalam hati ketika melihat di jendela kelasnya.
“Selamat pagi
Raisya..” Sapa ku
“Selamat pagi
juga, eh Shita, ada apa Shit? Kok gak biasanya sih datang ke kelas aku?” Tanya
Raisya.
“Gini Sya, aku
mau nanya tentang Robi. Robi itu siapa kamu sih?” Tanyaku langsung pada pokok
persoalan.
“Oh, Kak Robi,
dia saudara sepupu aku, dia juga bersekolah disini, dia anak XI-IPA1.” Jawab
Raisya.
“Oh, sekolah
disini juga. Eh, kenapa dia bisa tau aku sih? Terus bisa minta nomor handphone
ku ke kamu?” Tanyaku.
“Emm itu ya? Dia
kan pernah ngeliat kamu sama aku jalan ke kantin berdua, jadi dia minta
nomornya ke aku.”
“Emang kenapa sih
dia pengen tau nomor aku?
“Dia tuh suka
sama kamu Shit, makanya dia minta nomor kamu..”
“Hah? Suka sama
aku? Gak salah tuh? Jangan ngaco ah kamu.”
“Eh, beneran lah,
masa aku bohong sih.”
Gak kerasa,
suasana kelas Raisya udah mulai ramai. Aku pun berniat keluar dari kelasnya dan
pergi ke kelasku, kelas X-5.
“Eh, udah rame
gini, aku cabut ke kelas dulu ya? Nanti istirahat ke kantin bareng.”
“Emm ya sudah,
iya.”
***
Sesampainya di
kelas, udah banyak orang yang datang, kaya biasanya lah. Hehe. Aku langsung
menuju tempat duduk ku.
Eh, gak lama
kemudian, bel berbunyi. Anak-anak yang di luar berlarian memasuki kelasnya.
Kadang aku suka pengen ketawa sendiri. Haha..
***
Jam istirahat pun
tiba, bel berbunyi. Anak-anak keluar, ada yang pergi ke kantin, perpustakaan,
ada juga yang Cuma diem depan kelas mengobrol dengan temannya.
Aku langsung
pergi ke kantin bersama Raisya. Eh, pas di kantin, tumben-tumbennya Raisya yang
mau mesenin. Ya aku gak bisa ngelarang lah.
Eh, pas aku lagi
duduk sendiri, tiba-tiba ada seorang laki-laki datang menghampiri ku dan
bertanya, “Bolehkah aku duduk disini?”
Aku heran,
sepertinya aku kenal suara ini, oh iya, suara orang yang menelponku tadi malam.
Haduh, kok aku jadi deg-degan gini ya, ada apa ini. Ucapku dalam hati sambil
menatap wajah lelaki itu.
“Hey,, kenapa?
Boleh gak nih?” Tanyanya lagi.
“Oh, iya, tentu
saja,” Aku secara refleks menjawab pertanyaan lelaki itu.
Laki-laki itu
bertanya-tanya tentangku, tapi dia tidak memperkenalkan identitasnya.
Setelah selesai
memesan, Raisya balik lagi ke tempat ku duduk dengan lelaki itu sambil membawa
makanan dan minumannya.
“Eh, Kak Robi.
Dari kapan disini?” Tanya Raisya pada Robi.
“Hah, Robi?
Berarti laki-laki yang ada di depanku ini lelaki yang tadi malem menelponku,
uh, bener saja perkiraan aku, suaranya gak asing” Ucapku dalam hati, aku jadi
salting, salah tingkah. Haha
“Eh, ada kamu
juga, dari tadi. Haha..” Jawab Robi sambil bercanda.
“Ah kaka, ada-ada
aja. Eh iya Shit, Ini yang namanya Robi yang tadi malem nelpon kamu.”
“Oh ini, kenapa
kaka gak bilang dari tadi, kalau kaka yang tadi malem nelpon aku, kira aku
siapa.”
“Hmm,, hehe maaf
atuh cantik.” Puji Robi
Hah, Robi bilang
aku cantik? Haduh.. deg-degan gini. Muka aku merah.
“Eh kak, mau
mesen apa? Biar aku pesenin” Kata Raisya ke Robi.
“Ah aku mah sama
aja kaya kalian deh, Eh iya Sya, Makananya buat aku duluan ya? Nanti kamu yang
itu. Haha..”
“Iya lah kak, gimana kaka aja. Mau enaknya aja. Haha..”
Raisya pun
meninggalkan kami berdua.
“Ayolah Shit, makanannya
di makan , jangan di liatin aja. Apa mau aku suapin?? Sini atuh, buka
mulutnya.” Menyodorkan sendok yang berisi makanan ke depan mulutku.
“Ah, gak usah
kak, kaka makan sendiri aja,” Aku langsung menolak.
“Oh ya sudah,
Makan donk makanannya kalau gak mau di suapin ya.. haha.. Apa kamu gak mau
makan? Biar sama aku aja di abisin.. haha..” Robi bercanda.
“Ah kaka,
ternyata kaka rakus juga ya.. hehe” Aku membalas candaan Robi.
“haha.. Bisa aja
kamu.”
“hayoh, kalian
bercanda berdua, gak ngajak-ngajak aku. Haha..” Raisya datang langsung ikutan.
Eh, gak beberapa
lama udah makan, bel bunyi, Aku, Kak Robi dan Raisya buru-buru pergi ke kelas.
Sebelum Kak Robi pergi, dia berbicara dulu padaku, katanya aku jangan dulu
pulang, pulangnya biar bareng aja sama Kak Robi. Haduh, ada apa ini, kenapa dia
ngajak pulang bareng ya. Ah, barangkali Cuma iseng aja.. haha
***
Bel pulang berbunyi, saat aku
keluar lewat gerbang, eh Kak Robi udah ada disana dengan sepeda motornya. Aku
pura-pura tidak melihatnya, saat aku jalan, dia memanggilku.
Wah bener, dia lagi nunggu aku.
“Ada apa kak?”
Tanya aku.
“Eh, kamu ini
bagaimana sih, kan tadi kata aku pulang bareng. Masa udah lupa lagi sih? Payah
ah.”
“Oh iya ya,
hehe.. Maaf atuh kak.”
“Yaudah cepet
naik, pake nih helm.nya,” Menyodorkan helm padaku.
Ketika di jalan,
dia tiba-tiba menghentikan motornya pada suatu taman yang luas.
“Ih, kenapa
berhenti kak?” Tanyaku heran.
“Gak apa-apa,
kita diem dulu aja disini sebentar.”
“Oh.”
Setelah mencari
tempat duduk, aku dan Kak Robi duduk di situ.
Eh setelah duduk
kita gak saling bicara satu sama lain, kita asyik dengan handphone kita
masing-masing. Tiba-tiba Robi berkata.
“Shita, udah
punya pacar belum?”
“Menurut kaka?
Memang pernah liat aku pacaran?”
“Emm,, ya belum
juga sih. Berarti belum punya dong?”
“Mau gak kamu
jadi pacar aku?”
“Hah? Gak salah
kak?”
“Ya gak salah
donk Shit. Mau gak?”
“Hmm,, gimana
ya.. Ya sudahlah, kita coba jalanin dulu aja.”
“Beneran Shit?
Jadi kamu nerima aku?”
“Iya kak.”
“Aduh Shita,
makasih banget ya, udah mau nerima aku.”
“Iya kak,
sama-sama”



Tidak ada komentar:
Posting Komentar